Friday, May 2, 2008

Lima Ratus Rupiah

Lima Ratus Rupiah
Cerita kecil dari Aveline Agrippina Tando



Pagi ini seperti pagi - pagi yang lalu. Aku masih berada di dalam mobil bersama Dewo. Dewo kemudikan setir mobil seiring jalan. Jalan raya di Jakarta tak akan pernah mati. Tak pagi, tak juga senja. Pasti saja ada keramaian.

Mobil taff hitam ini berhenti ketika lampu merah menyala. Pedagang asongan dan pengamen mulai berkeliaran di tengah jalan, memutari mobil - mobil dan motor - motor yang menunggu lampu hijau menyala.

"Wo, beliin aku Warta Kota dong!" seruku.
Dewo menurunkan kaca mobilnya. Di luar mobilnya ada seorang penjual koran yang memegang hampir seluruh harian yang terbit pada pagi ini.

"Mas, korannya?"
"Warta Kota, bang!"
Tangan abang penjual koranpun mulai mencari - cari Warta Kota di antara tumpukan - tumpukan koran di tangan kanannya. Ditariknya sejilid koran dan memberikannya pada Dewo. Dewo memberinya dua lembar uang seribu rupiah.

"Mas, ada gopean enggak? Saya tak punya kembalian nih!"
"Sudah, untuk abang saja!"
"Makasih, Mas!"

Tukang koran itu berlalu meninggalkan mobil kami yang masih berhenti menunggu lampu merah menyala.

"Wo, aku ada 500an. Tadi, kasih aja ke tukang koran itu. Jadi pas kan uangnya?"
Dewo hanya mentertawakan aku.

"Rus, biarin
aja dia untung lima ratus. Toh, jaman edan gini emang bisa beli nasi hanya lima ratus? Dia juga tak bakal bisa kayak kita gini kan? Duduk di mobil enak, ber-AC, bisa ku
liah. Kecuali kalau dia ikut kontes Indonesian Idol dan menang mengalahkan Indra Lesmana. Atau ikut Kontes Dangdut TPI dan jadi pemenangnya."

Aku hanya tertawa mendengar kata - katanya. Dalam hati aku berkata, apalah arti uang lima ratus saat ini, hanya koin kecil untuk mereka amat bernilai, untukku hanya barang kecil yang manfaatnya hanya sedikit. Dewo, terima kasih menyadarkanku.

Mobil ini berlalu meninggalkan jalan ini.

1 Mei 2008
Anda bijak? Tidak membajak!


No comments: