Saturday, August 28, 2010

Perempuan Senja

Kota menjadi ramai dengan kedatangan seseorang yang telah lima tahun lalu dinyatakan meninggal dunia. Tepat di tengah kota ini juga, seseorang itu tewas dilindas oleh roda truk yang membawa hewan ternak. Kepalanya remuk dan wajahnya telah hancur.

Tetapi tidak dengan kedatangannya kini. Dia seperti dahulu, masih memancarkan wajahnya yang anggun sebelum disambar oleh truk itu. Sontak, seketika terkejutlah kota itu dengan kedatangan perempuan yang telah merenggang nyawa di hadapan penduduk kota lalu kembali lagi lima tahun kemudian.

"Perempuan yang setiap sore sering berjalan itu?"

"Iya! Sore tadi kami melihatnya. Dia sedang menaburkan bunga di jalan sewaktu ditabrak oleh truk ternak itu.”

“Lalu ke manakah dia?”

“Tidak tahu. Tak seorangpun berani mendekat kepadanya, apalagi mengikutinya.”

Perempuan senja itu datang lagi, datang lagi. Dan lagi-lagi ia menaburkan bunga di atas jalan yang sama pada kemarin sore. Penduduk mulai bergidik ngeri melihatnya. Perempuan yang setiap kali berjalan senja hari itu datang lagi setelah lima tahun tak tampak lagi.

“Arwahnya belum tenang.”

“Masak lima tahun masih belum tenang?”

“Mungkin saja.”

Di hari ketiga, perempuan senja itu lagi-lagi datang. Namun kini sedikit berbeda. Dia tidak membawa bunga seperti kemarin. Dia membawa sebungkus kecil jeruk nipis dan airnya diperas di atas jalan sebagai pengganti bunga. Kemudian ditinggalkannya sepucuk surat di atas jalanan itu, kemudian dia pergi.

Rina, aku datang. Aku datang dengan cinta sekaligus dengan benci setelah kuketahui bahwa kita mencintai lelaki yang sama. Aku sedih dengan kematianmu, sekaligus bahagia. Kita sedarah-daging di hadapan lelaki itu. Aku benci kepadamu karena kau rela melacurkan tubuhmu di hadapan lelaki itu. Lelaki yang kini menjadi suamiku.

Saudaramu,

Rani

Kemudian, tidak ada lagi perempuan sore yang datang. Kota menjadi sunyi seketika.



Support this Flash Fiction at here

No comments: