On a wagon bound for market
There’s a calf with a mournful eye
High above him there’s a swallow
Winging swiftly through the sky
Malam ini, pekat, sungguh dingin. Kutatap dari jendela. Hujan tak henti – hentinya turun. Bahkan semakin deras membasahi tanah. Cahaya langit hanya terlihat sekilas, lalu lenyap.
Piringan hitam masih memutar suara Joan Baez. Mengisi keheningan mala mini. Kuingat kawan, masih kuingat! Kita bagai sapi dengan mata sayunya, mata kepedihan. Melihat sekawanan mereka yang pernah menjadi sahabat kita, kini berpaling dan masuk dalam arus kesesatan.
How the winds are laughing
They laugh with all their might
Laugh and laugh the whole day through
And half the summer day
Kau menggoreskan tinta di atas kertas dalam sudut ruang. Bertemankan malam yang hampa. Lalu mereka membaca dan salah dari mereka merasa tersinggung.
Banyak yang mencoba menghentikan langkahmu, sia – sia. Tak berarti. Kau memang berwatak keras. Mengorasikan semua yang sebenarnya terlarang. Melawan tikus – tikus jelmaan iblis.
Siap tersingkirkan. Itu hidupmu. Dan aku hanya bersembunyi dalam ketakutan. Kita berbeda. Malah kau terjang mereka dalam kekuatan kata – katamu.
Joan Baez semakin mengingatkan padamu, sahabat.
“Stop complaining!” said the farmer.
Who told you a calf to be?
Why don’t you have wings to fly with,
like the swallow so proud and free
seandainya aku seberani dirimu, mengkekahkan keadilan, kita akan siap terbunuh dalam bising hidup ini. Malam ini semakin terasa dingin sejak kulewati tanpa dirimu, kawan.
Pada Lembah Mandalawangi, kita habiskan sisa – sisa hidup kita. Setelah kita merasa bosan akan hidup ini dan ingin mati dalam kebisuan ini. Mendaki puncak tertinggi itu dan tersesakkan dalam jiwa – jiwa ini.
Syair itu membuatku merasa kehilangan dirimu, kawan. Semakin menyadarkan aku bahwa engkau sungguh telah tiada. Dunia ini terasa sunyi tanpa perjuangan hidupmu itu dan aku hanya manusia kecil yang tak seberani dirimu.
Calves are easily bound and slaughtered
Never knowing the reason why
But whoever treasures freedom
Like the swallow has learned to fly
Malam ini juga yang mengingatkanku pada seseorang. Seseorang yang datang dan mengetuk pintu rumahku. Dalam rasa duka, ia menyatakan padaku bahwa engkau telah pergi. Jiwamu terlepas di Puncak Jawa itu. Hanya ragamu yang terlihat dengan mataku yang tak dapat membendung lambang kehilangan itu.
Malam terasa panjang setelah Joan Baez terus mengungkapkan seluruh isi dari lagu itu. Lagu itu juga yang sering kudengar bersamamu, kawan.
Donna, Donna, Donna, Donna
Donna, Donna, Donna, Don
-Soe Hok Gie, In Memorial-
31 Mei 2008
No comments:
Post a Comment