Saturday, August 23, 2008

Catatan Malam Itu...

Pada hening malam, aku masih sibuk dengan layar komputerku. Padahal waktu telah menunjukkan lewat tengah malam. Entah mengapa, jemari ini masih ingin terus membentuk pola – pola kalimat. Kegilaan besar untukku semalam. Seolah mata dan jemari telah bekerjasama untuk menyiksa malam – malamku dengan tak ingin berhenti beraktifitas.

Kadangpun aku juga mersakan jenuh. Ketika mengetik, aku kehilangan apa yang harusnya aku katakan. Atau aku hanya berdiam diri, menatapi layar komputer semalam suntuk.

Tapi tidak malam itu… Tidak… Malam itu, sungguh gila!

Mengapa dia harus datang pada dunia maya ini? Setelah akupun ingin terlelap dalam mimpi, malah dia mengajakku bercakap – cakap. Ah, kupikir tak ada salahnya juga untuk membicarakan hal yang sebenarnya kuanggap tak penting.

Sampai dia mengatakan: kamu sudah lihat foto perpisahan?

Aku tak menjawabnya untuk yang pertama kali. Sampai dia memanggilku yang ketiga kali: apakah kamu sudah lihat foto perpisahan?

Mengapa? Dan mengapa? Aku hanya ingin bertanya mengapa? Aku sudah mulai belajar melupakan hal – hal yang membuatku tenggelam dalam dunia yang sempit nan gelap. Namun mengapa dan mengapa lagi, dia menanyakan itu.

Pertanyaan itu, seperti ia membasuhku dengan segalon air pada dahaga malam.

Awalnya aku tak ingin melihatnya, tak ada keinginan sama sekali. Setelah ia menunjukkan tempat di mana foto itu, ah… seperti setan merujukku ke dalam dosa. Aku menekan mouseku.

Beberapa wajah yang kukenal menghiasi foto itu terpampang dengan manisnya. Tak ada aku. Aku tak ambil bagian pada kebahagiaan mereka. Kuanggap itu bukan acara perpisahan, tetapi acara selamat tinggal. Karena aku percaya, aku tak akan pernah lagi kembali pada hidup itu. Hidup pada imajinasi yang sungguh menyiksa.

Beberapa wajah bahkan pernah kuanggap sebagai saudaraku. Dan kini mereka telah menjadi pengkhianat. Seolah tak acuh lagi padaku. Aku terdiam. Terpaku pada seseorang. Orang pertama yang memulai sebuah pertengkaran yang kuanggap konyol.

Orang itu. Aku langsung tertawa melihatnya. Bukan mentertawakan wajahnya yang bulat, atau kulitnya yang hitam. Aku menertawakan hidupku yang konyol. Konyol karena harus bertemu dengannya. Konyol karena harus bercakap dengannya. Dan konyol karena dia menjadi dalang pada lakon permainan wayang yang bodoh.

Air mata? Untuk hari ini tak ada air mata. Aku puas mentertawakan hidupku yang konyol. Hidup… hahahaha… sebuah permainan yang berbatas pada waktu.

Mata dan jemari memang sepertinya telah bekerja sama menyiksaku dengan membawaku pada layar masa lalu kehidupanku.




Batas – batas waktu kehidupan,

A. A. T. – Sebuah Inisial

Thanks for your link, my friend.

No comments: